Dugaan Intervensi Soko Kaum di Pauah Sangik, Dinamika Adat Mencuat ke Permukaan

Redaksi PCV.News
Penulis : Redaksi PCV.News
3 Min Read

LIMA PULUH KOTA |Portalpcvnews.net — Dinamika adat kembali mencuat di Nagari Pauah Sangik, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota. Sejumlah unsur kaum menyampaikan keberatan atas dugaan intervensi dalam urusan soko kaum yang melibatkan pucuk adat setempat.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pucuk adat Nagari Pauah Sangik, Dt. Putiah Bapayuang Putiah, diduga memasuki ranah soko kaum Datuak Majo Bosa Baserong. Padahal, secara struktur adat, soko kaum tersebut berada di bawah pimpinan Kaompek Suku yang menaungi wilayah Limo Ibu Pauah Sangik.

Beberapa ninik mamak dan tokoh adat setempat menilai, persoalan soko kaum merupakan ranah internal kaum yang secara adat memiliki batas kewenangan tersendiri.

Dalam falsafah Minangkabau disebutkan:

“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”

Artinya, setiap keputusan adat harus berlandaskan norma yang telah diwariskan turun-temurun serta berpegang pada aturan yang jelas dan musyawarah mufakat.

Batas Kewenangan dalam Struktur Adat

Dalam tatanan adat Minangkabau, pucuk adat memiliki posisi terhormat sebagai payung nagari. Namun urusan soko kaum — termasuk penetapan dan pengelolaan gelar pusako — secara prinsip berada dalam lingkup sudut kaum masing-masing, diputuskan melalui musyawarah ninik mamak dan anggota kaum.

Pepatah adat mengingatkan:

“Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu barajo ka ampek suku, ka ampek suku barajo ka mufakat, mufakat barajo ka nan bana, nan bana berdiri dengan sendiri nya.”

Maknanya, setiap persoalan hendaknya diselesaikan melalui jenjang yang telah diatur dalam adat, bukan melalui langkah sepihak.

Sejumlah pihak berharap agar persoalan ini dapat diselesaikan secara bijaksana tanpa menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.

Harapan Penyelesaian Secara Musyawarah

Tokoh masyarakat setempat mendorong agar seluruh pihak kembali duduk bersama dalam balai adat untuk mencari titik temu.

Mengingat, dalam filosofi Minangkabau:

“Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik.”

Segala persoalan akan menemukan jalan keluar melalui musyawarah yang arif dan penuh pertimbangan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pucuk adat terkait dugaan tersebut. Masyarakat berharap persoalan ini dapat segera diluruskan demi menjaga marwah adat dan keharmonisan antar kaum di Nagari Pauah Sangik.

Karena dalam adat juga diingatkan:

“Nan kusuik ka manyalasaikan, nan karuah ka manjaniahkan.”

Yang kusut hendaknya diselesaikan, yang keruh hendaknya dijernihkan.(P/SP)

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar