Aceh, Portalpcvnews.net — Pascabanjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, denyut kehidupan masyarakat perlahan kembali berdenyut. Rumah-rumah yang sempat gelap kini kembali diterangi cahaya, aktivitas warga mulai berjalan normal, dan layanan publik berangsur pulih. Namun, di balik kembalinya aliran listrik tersebut, tersimpan kisah perjuangan berat para petugas PT PLN (Persero) yang bekerja dalam kondisi ekstrem dan penuh risiko.
Bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur kelistrikan. Sejumlah jaringan distribusi terputus, tiang listrik roboh, serta trafo mengalami kerusakan. Tantangan terberat dihadapi di wilayah perbukitan dan pedalaman, di mana akses jalan lumpuh akibat longsor dan luapan sungai.
Kondisi geografis yang sulit membuat kendaraan operasional dan alat berat tak mampu menjangkau lokasi kerusakan. Dalam situasi tersebut, para petugas PLN mengandalkan tenaga manusia, perhitungan teknis yang presisi, serta kerja sama tim untuk memastikan pasokan listrik dapat segera dipulihkan.
Salah satu proses pemulihan yang menyita perhatian publik adalah pengangkutan trafo menuju gardu di kawasan pegunungan. Trafo, sebagai komponen vital dalam sistem kelistrikan, memiliki bobot berat dan membutuhkan penanganan khusus. Namun keterbatasan akses memaksa petugas membawa peralatan tersebut secara manual, menembus hutan lebat dan jalur setapak yang licin.
Dalam dokumentasi yang beredar luas di media sosial, tampak sejumlah petugas PLN memikul trafo menggunakan bambu sebagai alat bantu. Mereka berjalan perlahan, menyelaraskan langkah demi menjaga keseimbangan beban. Medan curam dan licin akibat sisa hujan membuat setiap pergerakan harus dilakukan dengan kehati-hatian tinggi.
Kepala Unit PLN setempat menjelaskan bahwa metode manual tersebut dipilih setelah melalui pertimbangan teknis dan aspek keselamatan.
“Kami menyesuaikan metode kerja dengan kondisi lapangan. Ketika jalan tidak bisa dilalui kendaraan dan listrik harus segera dipulihkan, opsi manual menjadi solusi terakhir yang tetap kami jalankan dengan standar keselamatan,” ujarnya.
Perjalanan menuju lokasi pemasangan trafo tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga ketahanan mental. Petugas harus melewati akar pohon, bebatuan licin, serta jalur sempit di tepi jurang. Cuaca yang tidak menentu menambah tingkat risiko pekerjaan. Meski demikian, seluruh proses tetap dilakukan dengan disiplin prosedur keselamatan kerja.
Bagi para petugas di lapangan, pemulihan listrik bukan semata tugas teknis. Mereka memahami bahwa listrik merupakan kebutuhan fundamental masyarakat pascabencana—untuk komunikasi, akses informasi, layanan kesehatan, hingga pemulihan aktivitas ekonomi.
“Ketika listrik padam, dampaknya sangat luas. Karena itu, kami berupaya maksimal agar pasokan listrik bisa kembali secepat mungkin, dengan tetap mengutamakan keselamatan,” ujar salah seorang petugas yang terlibat langsung dalam pemulihan.
Selain pengangkutan trafo, pekerjaan berisiko lain juga dilakukan, seperti perbaikan jaringan di ketinggian. Petugas harus memanjat tiang listrik dan memperbaiki sambungan kabel yang rusak akibat terjangan banjir dan longsor. Seluruh pekerjaan dilakukan dengan perlengkapan alat pelindung diri sesuai standar keselamatan.
PLN menegaskan bahwa keselamatan personel menjadi prioritas utama, terutama dalam kondisi pascabencana yang rawan. Setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan dengan pengawasan ketat dan perencanaan matang guna meminimalkan risiko kecelakaan kerja.
Di tengah medan sulit, dukungan masyarakat setempat menjadi penyemangat tersendiri. Warga kerap membantu menunjukkan jalur tercepat, menyediakan air minum, hingga makanan sederhana bagi petugas yang bekerja berjam-jam di lapangan.
Seorang warga desa yang sempat mengalami pemadaman listrik selama beberapa hari mengaku terharu melihat perjuangan para petugas.
“Kami melihat langsung bagaimana mereka memikul trafo naik gunung. Itu bukan pekerjaan mudah. Kami sangat berterima kasih karena listrik kini sudah kembali menyala,” katanya.
Apresiasi juga mengalir dari warganet setelah video perjuangan petugas PLN viral di media sosial. Banyak yang menyebut mereka sebagai “pahlawan listrik”—bekerja jauh dari sorotan, namun memegang peran krusial dalam pemulihan pascabencana.
Manajemen PLN menyampaikan bahwa pemulihan jaringan listrik di wilayah terdampak dilakukan secara bertahap, menyesuaikan tingkat kerusakan dan kondisi geografis. Prioritas diberikan pada fasilitas vital seperti rumah sakit, posko bencana, tempat ibadah, dan permukiman warga.
Pemulihan listrik yang cepat turut mendukung kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan, proses evakuasi, serta kebangkitan kembali aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam konteks ini, kehadiran petugas PLN menjadi bagian integral dari upaya pemulihan terpadu bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan.
Peristiwa di Aceh kembali menegaskan peran strategis infrastruktur kelistrikan dalam situasi darurat. Di balik jaringan kabel dan gardu listrik, terdapat dedikasi manusia yang mempertaruhkan tenaga dan keselamatan demi memastikan layanan publik tetap berjalan.
Kisah petugas PLN menembus rimba dan medan terjal bukan sekadar narasi heroik, melainkan potret pengabdian dalam menjalankan tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat. Di tengah keterbatasan dan risiko, mereka hadir membawa terang—saat masyarakat paling membutuhkannya.(Tim)


