Jakarta, Portalpcvnews.net — Persija Jakarta kembali menjadi sorotan dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026.
Tim berjuluk Macan Kemayoran itu tercatat sebagai klub dengan jumlah kartu merah terbanyak kedua sejauh musim berjalan, dengan total enam pemain diusir keluar lapangan.
Kartu merah terbaru diterima oleh Bruno Tubarão saat Persija menelan kekalahan 0-1 dari rival klasiknya, Persib Bandung, pada pekan ke-17 yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (11/1/2026) sore WIB.
Wingback asal Brasil tersebut diganjar kartu merah langsung setelah dianggap dengan sengaja menginjak kaki gelandang Persib, Beckham Putra Nugraha. Wasit asal Korea Selatan, Ko Hyung-jin, tanpa ragu mengusir Tubarão dari lapangan.
Menanggapi tingginya jumlah kartu merah yang diterima timnya, pelatih Persija Mauricio Souza membantah anggapan bahwa anak asuhnya bermain agresif atau kasar. Dalam konferensi pers seusai pertandingan, Souza justru menilai statistik kompetisi menunjukkan sebaliknya.
“Kita harus lihat statistik kompetisi. Dari data itu, bisa dilihat apakah tim kami agresif atau tidak,” ujar Souza.
Persija kini hanya kalah dari Persijap Jepara, yang telah mengoleksi tujuh kartu merah. Sementara itu, jumlah kartu merah Persija sejajar dengan Persebaya Surabaya dan Arema FC.
Souza juga menyoroti banyaknya pelanggaran yang diterima timnya sepanjang pertandingan, namun minimnya sanksi kartu untuk pemain lawan.
“Di awal pertandingan saja, pemain kami sudah dipukul delapan kali dan itu menghasilkan free kick. Tapi tidak ada kartu kuning untuk pemain Persib,” katanya.
Meski demikian, Souza mengakui keputusan wasit atas kartu merah Tubarão sudah tepat. Ia menilai pemainnya melakukan kesalahan yang tidak seharusnya terjadi.
“Kartu merah itu benar. Attitude Tubarão tidak dewasa dan dia pantas mendapatkan kartu merah,” tegas pelatih asal Brasil tersebut.
Namun, Souza menilai konsistensi kepemimpinan wasit patut dipertanyakan. Ia menyoroti beberapa pelanggaran keras yang dilakukan pemain Persib, termasuk tekel dari belakang, yang menurutnya luput dari hukuman kartu.
“Harus dijaga siapa yang mau bermain bola di lapangan. Kalian lihat sendiri, ada pelanggaran dari belakang kepada Tubarão, tapi tidak ada kartu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Souza menegaskan bahwa Persija bukanlah tim yang mengandalkan permainan keras. Ia menyebut timnya justru kerap menjadi pihak yang dirugikan oleh pelanggaran lawan.
“Saya tidak pikir tim saya bermain kasar. Kami tidak banyak melakukan pelanggaran. Justru kami sering dilanggar dan dipukul oleh pemain lawan,” pungkasnya.
Kekalahan dari Persib dan kartu merah yang kembali menghampiri menjadi pekerjaan rumah besar bagi Persija Jakarta, terutama dalam menjaga konsentrasi dan kedewasaan pemain di laga-laga krusial sisa musim ini.(Yolan)


