Wali Kota Pariaman Akui Tak Mampu Kirim Kontingen ke Porprov 2026 karena Keterbatasan Anggaran

Redaksi PCV.News
Penulis : Redaksi PCV.News
3 Min Read

Pariaman, Portalpcvnews.net — Wali Kota Pariaman, Yota Balad, secara terbuka mengakui bahwa pemerintahannya tidak mampu memberangkatkan kontingen atlet untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026 yang direncanakan berlangsung pada Juni–Juli tahun ini.

Alasan utama ketidaksiapan tersebut adalah ketiadaan alokasi anggaran dalam APBD Kota Pariaman.

Yota menyatakan, kondisi ini bukan hanya dialami oleh Pariaman, melainkan juga oleh sejumlah daerah lain di Sumatera Barat yang telah lebih dahulu menyatakan ketidakmampuan mengikuti ajang olahraga multi-event tersebut.

“Saya harus akui, Kota Pariaman tidak bisa mengikuti Porprov karena memang tidak ada penganggaran yang disiapkan.

Beberapa daerah juga sudah mengangkat bendera putih. Jadi, bagaimana mungkin kami di Pariaman untuk mengikutinya,” ujar Yota Balad dalam perbincangan dengan Wartawan, Sabtu siang.

Meski demikian, mantan Sekretaris Daerah Kota Pariaman itu tidak menutup peluang partisipasi apabila Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memberikan kemudahan atau subsidi khusus bagi daerah peserta.

Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi solusi atas keterbatasan fiskal daerah pada tahun anggaran berjalan.

Yota menjelaskan, APBD Kota Pariaman telah ditetapkan jauh sebelum terbitnya Surat Keputusan pelaksanaan Porprov 2026. Seluruh pos anggaran telah terkunci, sementara alokasi dana untuk olahraga sangat terbatas.

“Anggaran kami sudah ditetapkan terlebih dahulu sebelum SK Porprov 2026 diterbitkan. Untuk tahun ini, anggaran KONI Pariaman sekitar Rp500 juta dan itu hanya cukup untuk kebutuhan operasional,” jelas alumnus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tersebut.

Lebih jauh, Yota Balad menilai pelaksanaan Porprov seharusnya ditempatkan dalam kerangka pembinaan atlet jangka menengah dan panjang, bukan sekadar mengejar target pelaksanaan tahunan.

Ia mengingatkan bahwa pelaksanaan yang tergesa-gesa justru berpotensi menurunkan kualitas kompetisi dan capaian prestasi.

Sebagai alternatif, Yota mengusulkan agar tahun 2026 difokuskan pada Pra-Porprov yang dikemas melalui Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) masing-masing cabang olahraga. Melalui mekanisme tersebut, atlet-atlet potensial dapat tersaring secara objektif sebelum berlaga di Porprov utama.

“Dengan Pra-Porprov, kita bisa dua kali menggelar event. Konsepnya sama seperti PON yang diawali Prapon lewat Kejurnas.

Jika Porwil 2027 di Batam menjadi pertimbangan, Porprov bisa digelar lebih awal di tahun tersebut. Dengan begitu, fase kompetisi atlet tetap berkelanjutan,” paparnya.

Menurut Yota, pendekatan tersebut tidak hanya lebih realistis secara anggaran, tetapi juga lebih strategis dalam membangun ekosistem olahraga daerah yang berkesinambungan dan kompetitif.

“Saya lebih sepakat dengan pola seperti itu. Lebih terencana, lebih menarik, dan pembinaan atlet benar-benar terasa,” pungkasnya.(Ade Candra)

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar