Payakumbuh |Portalpcvnews.net — Upaya meningkatkan kesiapsiagaan satuan pendidikan dalam menghadapi potensi bencana terus diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Wilayah I sampai VIII, yang digelar di Aula SMAN 3 Nan Kodok, Kota Payakumbuh, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti seluruh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah SMA/SMK di wilayah IV. Turut hadir dalam kegiatan tersebut tamu undangan dari Kementerian Agama Kabupaten Tanah Datar Dan Kota Payakumbuh.
Sosialisasi dibuka secara langsung oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV, Tasman Firdaus, S.Pd.I., M.Pd. Dalam sambutannya, Tasman menekankan pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan satuan pendidikan.
Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan keselamatan peserta didik, guru, tenaga kependidikan, serta seluruh warga sekolah ketika menghadapi kondisi darurat maupun bencana.
Ia berharap melalui kegiatan tersebut, para kepala sekolah dan wakil kepala sekolah tidak hanya memahami konsep SPAB, tetapi juga mampu menerapkannya di lingkungan sekolah masing-masing. Kesiapsiagaan, menurutnya, perlu dibangun melalui perencanaan, edukasi, simulasi, serta koordinasi yang baik dengan berbagai pihak terkait.
“Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi bagian dari budaya di satuan pendidikan. Dengan pemahaman dan perencanaan yang baik, risiko dapat diminimalkan dan keselamatan warga sekolah dapat lebih terjamin,” demikian inti arahan yang disampaikan Tasman dalam pembukaan kegiatan.
Sementara itu, Kasubag Umum Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Hardison, S.Pd., M.Pd.T., M.M., selaku narasumber, memberikan pemaparan mengenai pentingnya penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) secara menyeluruh di lingkungan sekolah.
Hardison mengatakan, kegiatan sosialisasi ini bukan hanya sekadar menyampaikan materi, tetapi juga diharapkan menjadi sarana untuk mendapatkan feedback atau umpan balik dari sekolah terkait kondisi, kebutuhan, serta potensi risiko bencana yang ada di masing-masing satuan pendidikan.
“Program ini tidak akan berjalan kalau tidak ada feedback dari sekolah. Karena sekolah yang paling mengetahui kondisi dan kebutuhan di lingkungan masing-masing,” ujar Hardison.
Hardison menjelaskan bahwa SPAB merupakan upaya membangun satuan pendidikan yang memiliki kemampuan dalam mengantisipasi dan mengurangi risiko bencana, melakukan kesiapsiagaan serta memberikan perlindungan kepada seluruh warga sekolah.
Ia juga menekankan bahwa penerapan SPAB membutuhkan keterlibatan seluruh unsur sekolah. Mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga dukungan orang tua dan pihak terkait lainnya.
Menurut Hardison, sekolah perlu memiliki pemahaman mengenai potensi risiko bencana di wilayah masing-masing sehingga dapat menyusun langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah.
Melalui sosialisasi tersebut, para peserta diharapkan dapat membawa pengetahuan dan materi yang diperoleh untuk diterapkan di satuan pendidikan masing-masing. Selain meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, penerapan SPAB juga diharapkan mampu membentuk budaya sadar dan tanggap bencana di lingkungan pendidikan.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara Cabang Dinas Pendidikan, satuan pendidikan, Kementerian Agama, serta pemangku kepentingan lainnya dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, tangguh, dan siap menghadapi bencana.(P)


