Payakumbuh |Portalpcvnews.net – Upaya melestarikan adat dan budaya Minangkabau terus dilakukan masyarakat Kenagarian Aua Kuniang melalui kegiatan Mambangkik Adat Salingka Nagari dengan tema “Maantaan Boreh (Bogheh)” yang digelar di Balai Adat Nagari Aua Kuniang, Kota Payakumbuh, Minggu (2/8/2026).
Kegiatan yang memasuki penyelenggaraan ketiga ini menjadi wadah memperkuat nilai-nilai adat sekaligus memperkenalkan tradisi salingka nagari kepada generasi muda agar tetap memahami dan menjaga warisan budaya Minangkabau.
Acara berlangsung khidmat dan meriah dengan dihadiri Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman, Ketua DPRD Kota Payakumbuh Wirman Putra Dt Mantiko Alam , Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Payakumbuh Yunida Fatwa, S.Sos., M.Si., Ketua LKAM Datuak Parmato Alam, Ketua Panitia Irwanto Datuak Parmato Dirajo, Wakil Ketua Yalpi Datuak Indo Marajo, Ketua KAN Kenagarian Aua Kuniang B Datuak Paduko Marajo, Lurah Sawah Padang Deop Darius, Camat Payakumbuh Selatan Dewi Mulia, S.STP., M.Si., Ketua Bundo Kanduang Kenagarian Aua Kuniang Asmarini, S.Farm., Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Payakumbuh Selatan, Kepala Puskesmas Padang Karambia, serta dihadiri Ketua BNN Kota Payakumbuh, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Payakumbuh, Ketua Bundo Kanduang Kota Payakumbuh, seluruh KAN dan Bundo Kanduang Sapuluah Nagari, seluruh lurah dan LPM se-Kecamatan Payakumbuh Selatan, serta niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, parik paga, piti bungsu, dan tokoh masyarakat.
Ketua Bundo Kanduang Kenagarian Aua Kuniang, Asmarini, S.Farm., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang bertujuan membangkitkan kembali adat salingka nagari agar tetap hidup di tengah masyarakat.
“Melalui kegiatan ini kami ingin memperkenalkan adat salingka nagari kepada generasi penerus serta masyarakat luas. Harapannya, nilai-nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur tetap terjaga dan terus dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Payakumbuh, Yunida Fatwa, S.Sos., M.Si., mengatakan terselenggaranya kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Parpora.
“Kami berharap kegiatan pelestarian adat seperti Mambangkik Adat Salingka Nagari dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Pemerintah Kota Payakumbuh akan terus memberikan dukungan agar adat dan budaya Minangkabau tetap lestari serta menjadi identitas yang membanggakan bagi masyarakat,” katanya.
Kehadiran unsur pemerintah daerah, lembaga adat, bundo kanduang, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya mencerminkan kuatnya sinergi dalam menjaga kelestarian adat Minangkabau.
Melalui tema “Maantaan Boreh (Bogheh)”, masyarakat diajak untuk kembali menghidupkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap adat yang menjadi pedoman hidup masyarakat Minangkabau.
Diharapkan kegiatan ini terus menjadi agenda tahunan yang mampu memperkuat identitas budaya sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda dalam memahami dan mencintai adat istiadat di Kota Payakumbuh.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, masyarakat juga disuguhkan berbagai pertunjukan seni tradisional yang menampilkan kekayaan adat dan budaya Minangkabau. Pergelaran seni adat tersebut dibawakan oleh Sanggar Seni “Rantak Suluah Aua”, yang merupakan wadah kreativitas generasi muda Kenagarian Aua Kuniang dalam melestarikan warisan kearifan lokal.
Di bawah kepemimpinan Ketua Yuspita, A.Md. dan Sekretaris Elmiza, S.Pd. AUD, para penampil mempersembahkan beragam atraksi seni bernuansa adat yang memukau para tamu undangan dan masyarakat. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi untuk menanamkan kecintaan terhadap adat, seni, dan budaya Minangkabau kepada generasi muda.
Pergelaran ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab para niniak mamak dan bundo kanduang, tetapi juga telah mendapat dukungan serta partisipasi aktif dari kalangan generasi muda.
Melalui Sanggar Seni “Rantak Suluah Aua”, semangat menjaga identitas budaya terus diwariskan agar tetap hidup, berkembang, dan relevan di tengah perubahan zaman.(P)


